Jumat, 17 Desember 2010

Dari Pentas Para Kandidat By Peduli Grobogan Yuk ( - Pahlawan Pencerahan Grobogan )

Dari Pentas ”Narsis” (?) Para Kandidat, Kemanakah Nurani Anda Akan Berlabuh ? Jika anda masih ingin memilih dalam Pilkadal Minggu 9 Januari 2011, maka yang paling realistis menjadi pemilih ”ideal” dalam kondisi ”sakit” seperti sekarang ini (dimana semua calon konon memakai politik uang ?
Dan dimana orientasi ”transaksional pragmatis” telah merajalela akibat ”kejenuhan dan apatisme rakyat terhadap para politisi,akibat pola tingkah wakil rakyat/politisi sendiri atau adanya janji selama ini yang mungkin tidak ditepati oleh para politisi dan minimnya kepedulian yang nyata dari para politisi” serta masih adanya tingkat kemiskinan dan kebodohan yang relatif tinggi di dalam masyarakat / pemilih) maka sekali lagi yang paling realistis ideal adalah PILIHLAH KANDIDAT / PASANGAN YANG POTENSI JELEK, RUSAK DAN RAKUSNYA PALING SEDIKIT.
Tapi mungkin ini merepotkan juga karena harus tanya-tanya kepada orang-orang yang mengenal para kandidat. Tapi hanya ini ikhtiar yang paling benar daripada memilih karena uang, tampang, popularitas maupun karena sekedar ajakan / pengaruh tokoh.
Dan suara terbanyak bukan cermin kebenaran,Insya Allah diridhoi Nya. Mari kita TOLAK POLITIK UANG. AJARI SEKITAR JANGAN MEMILIH KARENA UANG. Sekali lagi PILIHLAH KANDIDAT / PASANGAN YANG POTENSI JELEK, RUSAK DAN RAKUSNYA PALING SEDIKIT.
 Lalu,bagaimana menganalisa masing-masing kandidat. Saya coba buat semacam kuesioner. Kuesioner ini saya turunkan dari nilai-nilai Nabi Muhammad SAW yang sudah terkenal yaitu ”Sidiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh”. Kuesioner ini sekedar alat. Anda pun bisa membuat atau memiliki alat atau pandangan yang berbeda-beda atau bisa punya cara beda-beda untuk memilih tetapi intinya adalah bermuara pada sikap PILIHLAH KANDIDAT YANG POTENSI JELEK, RUSAK DAN RAKUSNYA PALING SEDIKIT.
Harus ada informasi yang cukup tentang rekam jejak kandidat. Ada beberapa pertanyaan yang harus anda jawab di bawah nanti sebelum memilih yaitu tentu sikap teliti sebelum memilih dengan mencari jawabannya kepada siapa saja yang anda anggap bisa obyektif ( bukan team sukses) dan orang itu mengerti betul bagaimana seluk beluk calon / pasangan.
Masing-masing kandidat ( baik cabup / cawabup ) dalam tiap pasangan calon dinilai dengan kuisioner ini. Lalu dihitung skornya dari tiap jawaban untuk masing-masing kandidat dalam satu pasangan calon itu, total skor dihitung, lalu total skor dari masing-masing kandidat dalam satu pasangan itu dijumlah, begitu seterusnya untuk masing-masing kandidat di pasangan yang lain dan kemudian antar pasangan dibandingkan total skornya dan dipilih pasangan calon yang skornya paling tinggi,  Pilihlah yang skornya paling tinggi.
Kalau ada yang nilainya sama maka pilihlah sesuai kecenderungan hati nurani anda saja, dengan feeling kemana pilihan yang paling ”sreg”  harus dijatuhkan yang penting adalah adanya alasan yang kuat secara rasional obyektif. Mari kita tinggalkan sikap ikut-ikutan atau gepeng ilir melu A, B dan C yang sebenarnya tidak rasional dan tidak demokratis itu.
Secara umum,apapun caranya intinya adalah telitilah bagaimana rekam jejak calon dan lingkungan terdekatnya. Repotnya bila ada kandidat yang tidak terdeteksi bagaimana selama ini. Jika model kuesioner ini cukup repot juga maka ya sederhananya dari informasi yang tersedia, tanya kepada hati nurani siapa yang kira-kira YANG POTENSI JELEK, RUSAK DAN RAKUSNYA PALING SEDIKIT. Itu yang sebaiknya anda pilih.
Beberapa pertanyaan mendasar itu adalah sebagai berikut :
1. Apakah menurut penelusuran Anda dengan mengamati perilaku / perkataan / pemecahan masalah / pembuatan kebijakan dari kandidat serta janji-janji yang mungkin pernah diucapkannya selama ini dalam pergaulan sehari-hari,kandidat cenderung orang yang bisa dipercaya ( alias tidak banyak bohong / berjanji tapi ditepati / amanah ) ?
     1. Ya    2. Tidak;
2. Apakah menurut penelusuran Anda,dalam tindakan kesehariannya kandidat cenderung orang yang mau bertanggung jawab, adil, peduli, bijaksana, profesional, terbukti mengutamakan fairness ( aturan main ), terbukti mengutamakan kepentingan orang banyak (masyarakat) dari pada memikirkan diri sendiri / keluarga, serta terbukti cepat dan tepat serta benar ( tdk melanggar kaidah norma dan agama ) dalam mengambil keputusan ?
    1.Ya  2. Tidak

3. Apakah menurut penelusuran Anda, kandidat dan anggota keluarganya serta lingkungan terdekatnya adalah orang-orang yang selama ini cenderung banyak berperilaku korup ( doyan upeti, suka lakukan pungutan liar, terindikasi korupsi, berbuat curang, main trabas/jalan pintas, ingin selalu diistimewakan, dan manipulasi ) ? 1.Ya 2 Tidak

 4. Apakah menurut penelurusan Anda, kandidat dan anggota keluarga serta lingkungan terdekat kandidat selama ini penghasilannya relatif banyak bergantung / bersumber dari APBD Grobogan dan rekam jejaknya selama ini secara umum kurang baik ?
1. Ya dan rekam jejaknya secara umum kurang baik
2. Ya, tapi rekam jejaknya secara umum masih baik ( profesional / sesuai prosedur )
3. Tidak banyak bergantung dari APBD;

5. Apakah menurut penelurusan Anda, kandidat dan anggota keluarganya layak menjadi panutan/suri tauladan/contoh buat masyarakat dan relatif tidak ”neko-neko” (arogan, boros, berfoya-foya, bermewah-mewahan, sombong, materialisitis, melanggar hukum ) selama ini ? 1. Ya  2. Tidak ;

6. Apakah menurut penelurusan Anda, kandidat cenderung orang yang mudah bekerjasama ( kerjasama yang positif ), mudah bergaul, mudah berkomunikasi, ramah, mau menerima kritik / saran, lapang dada terhadap perbedaan pendapat / pandangan, punya sifat melayani sesama dengan baik dan terbuka serta secara umum terkesan profesional pada bidang yang digelutinya/dipimpinnya ? 1.Ya  2. Tidak;

7. Apakah menurut penelusuran Anda, kandidat cenderung orang yang berprestasi tinggi, berorientasi pada hasil yang berkualitas tinggi, kreatif, inovatif, kuat melakukan kontrol / pengawasan di lapangan secara langsung, memiliki semangat kerja yang tinggi dan memiliki kemauan yang keras untuk mewujudkan sesuatu yang mulia ? 1.Ya  2.Tidak;

8. Apakah menurut penelusuran Anda, kandidat cenderung orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik, kualitas pemikiran / pemecahan masalah yang memadai, pengetahuan yang luas, memiliki pengalaman yang terbukti baik/berhasil dalam menjalankan suatu kepemimpinan, dalam memimpin jelas arahnya mau kemana, dalam memimpin bisa menselaraskan berbagai kepentingan dan dalam memimpin bisa membina dan memberdayakan bawahan untuk menjadi lebih maju ? 1.Ya  2.Tidak;

9. Apakah menurut penelusuran Anda,kandidat cenderung orang yang sehat jasmani dan rohaninya,tidak sakit-sakitan, tidak mudah stress,tidak gampang emosi, memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang memadai ? 1. Ya  2. Tidak;
Banyak yang mendesak saya untuk mengulas profil para kandidat dalam Pilkada 9 Januari 2011. Saya sebenarnya enggan melakukan itu karena siapkah para pendukung itu menerima perbedaan, pro kontra ?.
Posisi Pgy serba repot dalam kondisi saat ini, Dituduh macam-macam. Padahal sejatinya Pgy non partisan. Pgy bukan mass media yang prinsipnya cover both side.
Pgy jg bukan ” bagian humas ” yg mungkin ” suka memuji ” atau ingin tampilkan yg bagus-bagus. Insya Allah semua sisi Grobogan ada disini apa adanya.

Lihatlah Pgy secara keseluruhan. Pgy didirikan hanya sebagai ekspresi keprihatinan rakyat kecil biasa terhadap kondisi yang ada. Kalaupun kritis itu adalah kritisnya rakyat kecil kebanyakan agar ada kondisi yang ada lebih bagus tidak ada kaitan apapun dengan dukung mendukung.
Melalui tulisan sy dibawah ini sy berusaha untuk memenuhi harapan kawans tetapi pro kontra adalah hal biasa ya. Jangan lakukan intimidasi, teror dan kekerasan fisik dalam menyelesaikan perbedaan. Berbeda itu indah kata Obama saat di Mesjid Istiqlal Jakarta.
Marilah kita tingkatkan kualitas demokrasi di Grobogan. Mohon maaf sebelumnya jika tulisan sy nanti tdk berkenan, Sy sudah coba se-soft mungkin. Silakan anda berkomentar tapi yang rasional obyektif ya.
Dalam pilkada,Pgy tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan 1 juta masa pemilih diluar sana.
I.       Profil Pemilih dan Daerah Untuk Pilkada 9 Januari 2011, telah ditetapkan oleh KPU Grobogan daftar pemilih tetap (DPT) sejumlah 1.076.639 orang yang terdiri dari 531.080 laki-laki dan 545.559 perempuan.
Mereka terbagi dalam 2433 TPS yang tersebar di 19 Kecamatan dan 280 Desa. Apakah dari 1 juta pemilih itu akan memilih semua atau memilih dengan benar ? Belum tentu. Dalam Pilkada 2006 lalu justru ”pemenang” nya adalah golput dan suara tidak sah yang mencapai 33% dari DPT.
Kondisi ini harus diantisipasi oleh penyelanggara dan pihak terkait dengan meningkatkan sosialisasi ke masyarakat agar nantinya partisipasi dalam pesta demokrasi itu meningkat sehingga meningkatkan legitimasi proses demokrasi di Grobogan. Pilkada yang dibiayai sd 25 M untuk dua putaran ini harus menjadi momentum kebangkitan Grobogan. Sayang jika 25 M menghasilkan hal yang sia-sia.
Semoga aman, damai dan sukses. Kondisi Grobogan sendiri jelang Pilkada di beberapa sektor mendasar sama seperti dengan kondisi jelang pilkada tahun 2006 terutama soal infrastruktur,birokrasi dan pelayanan publik. Dulu sekitar 80% jalan rusak saat ini sekitar 70% jalan rusak, dulu isu KKN subur sekarang isu KKN juga masih subur, dulu tingkat kemiskinan relatif cukup tinggi saat ini juga tingkat kemiskinan masih cukup tinggi, dulu investasi besar yang masuk minim sekarang bisa dikatakan juga seperti itu, dulu mobilisasi dan intimidasi terhadap pns terasa sekarang nuansa itu juga terasa juga dan lain-lain.
Yang sederhana saja, pelayanan KTP juga dulu dan sekarang juga belum menunjukkan adanya transparasi yang kuat dalam pengenaan tarifnya. Walau beberapa sektor ada perbedaan positif tetapi faktanya juga adanya stimulus program pemerintah pusat misalnya dengan adanya Jamkesmas ( kesehatan ) dan BOS ( pendidikan ).
Jadi memang ada plus ada minus. Ada yang belum berhasil ada yang sudah berhasil. Melihat kondisi yang ada, mohon maaf tidak ada perubahan luar biasa yang terjadi di beberapa sektor mendasar. Persoalan-persoalan mendasar juga masih itu-itu saja antara lain infrastruktur, pengentasan kemiskinan,lapangan kerja,akses dan kualitas pendidikan dan pelayanan publik. Sisi lain Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibandingkan dengan Total Penerimaan ( PAD + DAU / DAK ) juga tetap relatif kecil persentasenya antara dulu dan sekarang. Apa bisa dikatakan sebagai fenomena jalan ditempat ? Tentu perlu analisis yang lebih mendalam.
Berbagai kondisi itu, sebabkan di lapangan masih ada ruang ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintahan saat ini yang cukup terbuka terutama soal infrastruktur. Kondisi ini tentu membuka ruang bagi keinginan akan perubahan kepemimpinan.
Dalam beberapa kasus Pilkada di berbagai daerah kondisi ini bisa memunculkan peluang terjadinya ” persaingan yang cukup ketat ” antara incumbent dan non incumbent. Biasanya kalau incumbent atau non incumbent yang menang maka menangnya menang tipis. Walau begitu, ada sebuah lembaga survey yang memprediksi pilkada akan berlangsung satu putaran. Dari survey kecil-kecilan yang dilakukan Pgy ada indikasi bahwa pemilih secara umum adalah massa mengambang yang belum jelas menentukan sikapnya, pilihannya dan bisa berubah-ubah pilihannya tergantung situasi dan kondisi di detik-detik terakhir.
Kebanyakan adalah pemilih transaksional pragmatis. Sangat sedikit yang ideologis rasional yang memilih dengan proses yang obyektif dan perhitungan matang strategis. Apakah ini ada kaitannya dengan tingginya tingkat kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan yang relatif tinggi dan apatisme masyarakat sendiri menghadapi pilihan-pilihan? Apatisme terjadi mungkin juga karena pendidikan politik dari parpol yang tidak jalan atau mungkin juga kejenuhan rakyat terhadap yang sudah-sudah dimana janji-janji suka diobral tetapi tidak terbukti ? Kecenderungan yang ada, dapat disimpulkan bahwa faktor popularitas,” politik uang ” dan pengaruh tokoh-tokoh kunci dalam suatu komunitas sangat menentukan kemana pilihan dijatuhkan.
Dari wawancara Pgy dengan seseorang di lapangan maka ada indikasi adanya ” uang yang diharapkan ” dan indikasi ” politik uang yang akan berbicara ”, sungguh ini memprihatinkan jika sikap orang itu adalah sikap kebanyakan.Orang itu bilang bahwa bagi dia yang akan dia pilih adalah yang memberi uang. Jika ada 2 calon yang memberi uang dalam jumlah yang sama maka yang memberi pertama yang dipilih. Jika ada yang lebih besar jumlahnya maka yang terbesar itu yang dipilih.
Mengerikan.Tugas kita bersama yang ” melek ”  untuk menyadarkan lingkungan sekitar untuk menolak praktek politik uang. AJARI SEKITAR TOLAK POLITIK UANG. Pilihan bukan karena uang tetapi pilihan karena setelah melalui proses menimbang siapa dia, bagaimana rekam jejaknya dan bagaimana keluarga atau lingkungan sekitarnya. Dan pilihan yang paling realistis saat ini adalah pilih yang potensi jelek, rakus dan rakus / korupnya terkecil.
Panwaslu Grobogan dan pihak-pihak terkait harus tegas dan kerja keras untuk memerangi politik uang. Hukum harus ditegakkan. Parpol pengusung dan para kandidat harusnya kompak berjanji dan lakukan kontrak politik untuk tidak lakukan politik uang.
Lakukan pendidikan politik, Walaupun dengan kondisi itu jumlah yang memilih sedikit tetapi Insya Allah barokah proses dan hasilnya. Ada program adu konsep adu kualitas harus dikedepankan. Menghalalkan segala macam cara hanya akan memasyarakatkan kemunafikan dan merusak tatanan moral masyarakat serta ke depan menyuburkan korupsi.Tapi mungkinkah ? Mimpi kali ya.
Walau begitu, di lapangan juga bisa disimpulkan ada 3 tendensi sikap pemilih yaitu golput, memilih incumbent dan memilih non incumbent. Yang golput beranggapan semua calon tidak ada yang memenuhi kriteria yang dia inginkan,semua calon jelek semua. Yang memilih incumbent beranggapan calon-calon non incumbent belum teruji dan tidak menjamin akan menjadi lebih baik. Yang memilih non incumbent beralasan karena tidak puas dengan kondisi yang ada misalnya jalan cepet rusak,suburnya KKN,alasan yang sifatnya personal dll sehingga memilih non incumbent agar ada perbaikan. Ada juga alasan yang lucu oleh seorang rakyat kecil yang Pgy temui bahwa memilih non incumbent karena beranggapan semua calon sama saja maka biar gantian agar sama-sama pernah merasakan jadi bupati dia memilih calon non incumbent. Tetapi secara umum terkesan alasan yang sifatnya transaksional-materialistis yang akan mendominasi siapa yang dipilih di kalangan akar rumput. Bila ini terjadi sisi lain adalah kegagalan institusi-institusi politik untuk mendidik dan mencerdaskan rakyat serta gagalnya para politisi untuk meraih kepercayaan rakyat akibat janji yang mungkin tidak ditepati dan perilaku yang tidak bisa jadi panutan oleh para politisi sendiri.
II.     Pilkada Fairplay hanyalah mimpi ? Padahal fair play is the best. Ayo Wujudkan. Indikasi sederhana fair play itu masih mimpi adalah soal pemasangan gambar-gambar. Gambar- gambar calon dipasang ditempat-tempat yang tidak sesuai aturan main misalnya di pasar, tiang telepon, tiang listrik dan lain-lain.
Dan Panwas akhirnya menertibkan. Tetapi terlihat juga masih ada baliho-baliho yang masih eksis saja terutama yang di depan rumah kader. Panwas dalam hal ini masih belum tegas 100%. Dan harusnya parpol atau team sukses dengan kesadaran sendiri mencabut atau mencopot baliho-baliho calonnya masing-masing dengan demikian ada pendidikan politik yang baik dan bisa ditiru oleh masyarakat.
Sisi lain juga ada dugaan mobilisasi birokrasi sehingga netralitas PNS jadi terganggu. Politik uang juga akan menjadi ancaman fair play. Selain politik uang yang mungkin akan merajelala maka beberapa indikasi kecurangan aturan main seperti dugaan mobilisasi birokrasi,intimidasi dan penggunaan fasilitas dinas juga terjadi.
Cara-cara berdemokrasi dan sistem penyelenggaraan pesta demokrasi Pilkada 9 Januari 2011 harusnya oleh pejabat dan pihak-pihak terkait dijaga untuk tetap berlangsung fair play, menjunjung etika-prosedur dan jauh dari cara-cara menghalalkan segala macam cara.Aturan main harus ditegakkan. Kualitas demokrasi yang baik adalah berkualitas hasil dan prosesnya. Fair play is the best. Tapi mungkinkah ? Segala daya harus diberikan untuk membantu terselenggaranya Pilkada yang jujur,adil,demokratis dan berkualitas. Biaya pilkada tidak sedikit (25 M).
Sayang jika proses dan hasilnya sia-sia. Informasi tentang bentuk-bentuk kecurangan perlu disebarkan. PANWAS HARUS MAKIN AWAS DAN TEGAS. JANGAN MELEMPEM. JANGAN MAIN MATA. MASYARAKAT HARUS BERANI LAPOR KE PANWAS JIKA ADA KECURANGAN DAN AKTIF MENGAWASI. MASYARAKAT JUGA HARUS AWASI KINERJA PANWAS DAN KPUD TERUTAMA TERKAIT NANTI PROSES PERHITUNGAN SUARA DARI TPS HINGGA ENTRY DATA DI KUPD. MASYARAKAT HARUS DIBERDAYAN UNTUK IKUT AWASI PILKADA AGAR BERJALAN JUJUR, BERSIH, ADIL DAN DEMOKRATIS SERTA  BERMARTABAT.
Beberapa kecurangan/penyelewengan aturan main dalam proses pilkada dari beberapa kasus di berbagai daerah yang perlu diwaspadai karea bisa saja terjadi di Grobogan adalah sebagai berikut :
1. Rekayasa daftar pemilih tetap (DPT). Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengondisikan DPT sedemikian rupa. Yang pertama ialah mengacak dan memecah pemilih sehingga seseorang justru terdaftar di TPS yang jauh dari rumahnya. Harapannya, banyak orang yang malas mencoblos. Ini berarti ada banyak sisa surat suara yang tak terpakai dan bisa dicoblos sendiri sesuai dengan keinginan pemesan. Kedua, menambahkan ghost voters atau pemilih siluman. menambahkan nama yang benar-benar fiktif. Jumlahnya bisa dibuat sesuka hati, tapi biasanya disesuaikan dulu dengan densitas (kepadatan) dan demografi penduduk.Yang ketiga ialah menghilangkan nama dari DPT dengan memanfaatkan kacau-balaunya sistem administrasi kependudukan. Pemerataan DPT yang hendak dimainkan penting juga. Sebab, tambahan suara yang akan dibetot juga tidak akan banyak per tempat pemungutan suara (TPS). Rata-rata 10-15 yang akan dicuri di tiap TPS. Jumlahnya kecil memang. Namun, kalau dikalikan dengan ribuan jumlah TPS yang ada di suatu kota, jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu.Kecurangan itu bisa langgeng karena sosialisasi oleh KPU lebih sering sekadar menempelkan DPS dan DPT di kantor kelurahan.Padahal, jarang ada warga yang mau bela-belain datang ke kantor kelurahan untuk memeriksa DPT.

2. Rekayasa undangan coblosan. Bisa jadi banyak undangan coblosan yang tidak disampaikan kepada warga, tapi per TPS. Jumlahnya tidak besar. Antara lima sampai sepuluh undangan. Ini yang akan dicoblos sendiri oleh oknum. Jumlahnya memang terkesan kecil. Tapi, dari modus undangan saja, bisa terkumpul sekitar 50 ribu tambahan suara, dengan asumsi jumlah TPS mencapai 5 ribu titik.

3. Serangan fajar ( politik uang ) jelang coblosan. Bila ada yang belum nyoblos maka bisa saja Oknum KPPS itulah yang memberikan informasi tentang nama-nama warga yang belum mencoblos hingga pukul 11.00 atau mendekati penghitungan suara di TPS. Nama-nama tersebut yang dijadikan sebagai sasaran politik uang. Si operator lantas mendatangi rumah yang bersangkutan dan tanpa tedeng aling-aling langsung menawarkan uang untuk mencoblos.

4. Pencoblosan sendiri yang dilakukan oknum KPPS. Dengan memanfaatkan undangan yang tak disebar atau sudah mengincar sejumlah surat suara yang telah " dipesan ",  oknum KPPS pun akan mencoblosnya sendiri. Pencoblosan itu dilakukan sendiri oleh oknum KPPS saat jeda istirahat antara selesainya proses coblosan dan akan masuknya penghitungan suara. Saksi harus awas kemana perginya anggota KPPS.

 5. Kecurangan di masa penghitungan suara atau ketika anggota KPPS menuliskan perolehan suara di kertas plano besar ( formulir / form C2 ).Oknum juru tulis bisa memanfaatkan kelengahan saksi saat pembacaan hasil.Sebab, biasanya saksi terpaku pada calon yang dia bela saja. Jadinya, mudah saja menambahkan suara ke lawan.

6. Kecurangan dalam penyusunan berkas acara ( mengisi form C1 ). Form C1 inilah yang memegang peran krusial. Sebab, kelak dalam rekapitulasi di tingkat panitia pemilihan kecamatan ( PPK ) hingga KPU,  berkas form C1 itulah yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung, bukan surat suara. Di form tersebut terdapat data mengenai jumlah surat suara, surat suara sah, surat suara tidak sah, hingga sisa surat suara. Sering kali sisa surat suara bisa dikurangi sehingga ada tambahan puluhan atau ratusan surat suara yang bisa di-entry untuk memenangkan salah satu calon.

7. Rekayasa dalam rekapitulasi jumlah suara yang ada.Begini prosedurnya. Dari TPS, rekap suara langsung dilakukan di PPK ( tingkat kecamatan ). Namun, entry data dilakukan PPS ( petugas setingkat kelurahan ). Entry data itu dilakukan dengan melihat C1 dan membuka kertas pleno penghitungan. Dalam pelaksanaannya, entry data tersebut dilakukan secara manual di komputer, sebelum hasil rekapitulasi per PPS dipaparkan untuk penyusunan C1 di tingkat kecamatan.
Dengan mekanisme seperti itu, banyak penyiasatan yang bisa terjadi. Modus pertama, KPPS bekerja sama dengan PPS. Setelah penghitungan suara di tingkat TPS kelar, anggota KPPS langsung menghubungi anggota PPS dan menyebutkan telah melakukan penambahan sisa surat suara misalnya. Maka, anggota PPS yang sudah ikut bermain langsung menyiapkan plano pengganti yang sesuai dengan form C1 akal-akalan dari TPS tersebut. Jadi, plano asli dari TPS dibuang dan sudah disiapkan kertas plano baru untuk rekap di tingkat PPK.

8. Kecurangan saat entry data. Petugas entry data kadang asal memasukkan angka. Bisa beralasan mengantuk, seorang petugas entry data memasukkan angka yang seharusnya misalnya 475, jadi 4747.

9. Kecurangan dengan langsung memasukkan data ngawur. Misalnya, di tingkat PPK tiba-tiba jumlah surat suara yang tidak sah menurun. Misalnya 5 ribu jadi 4 ribu. Ke mana sisanya?. Tim sukses pun pasti kelabakan mengeceknya karena harus membuka satu-satu lagi data per TPS. Belum kelar mengecek, tiba-tiba proses sudah selesai dengan alasan waktu. Pihak KPU atau PPK tinggal mempersilakan tim pemenangan yang tak puas untuk melapor ke panwas. Dan, apa reaksi panwas? Karena sudah begitu banyak timbunan kasus serupa, tentu saja ada keterbatasan panwas untuk mengatasinya. Maka, selanjutnya tinggal tugas KPU memplenokan dan mengesahkan hasil pemilu yang sudah by order tersebut.

       Beberapa hal lain yang bisa merusak kualitas demokrasi ( melanggar UU No 10 tahun 2008 ) dalam pilkada adalah hal-hal sebagai berikut :
1. Pemasangan alat kampanye (stiker, poster, baliho) di fasilitas pemerintah misalnya tiang listrik, tiang telepon, pasar, kantor, sekolah, rumah sakit umum, tempat ibadah, taman kota, pohon pelindung, di jalan protokol, jembatan, dan lain-lain;
2. Pelaksana,peserta dan petugas kampanye yang menghina seseorang, agama, suku, ras golongan calon dan peserta yang lain;
3. Pelaksana, peserta dan petugas kampanye yang mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan kekerasan;
4. Pelaksana, peserta dan petugas kampanye yang merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye peserta lain;
5. Pelaksana,peserta dan petugas kampanye yang membawa atau menggunakan gambar dan atau atribut peserta lain selain dari tanda gambar/atribut yang bersangkutan;
6. Pelaksana, peserta dan petugas kampanye yang menjanjikan/memberi uang/materi lainnya kepada peserta kampanye;
7. Pelaksana,peserta dan petugas kampanye yang menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat dan mengganggu ketertiban umum;
8. Menggunakan fasilitas negara,pemerintah,tempat ibadah dan tempat pendidikan. 9. Mengikutsertakan pejabat BUMD, PNS, anggota TNI dan POLRI, kepala desa dan perangkatnya, anggota badan permusyawaratan desa;
10. Mengerahkan PNS di lingkungan kerjanya; Selain kepada non incumbent maka pengawasan juga harus diberikan kepada calon incumbent yang mudah berpotensi untuk mengurangi kualitas demokrasi secara fair.

Bawaslu sendiri telah merelease juga titik rawan penyimpangan calon incumbent ( Gatra,April 2010 ) yaitu sebagai berikut :
1. Eksploitasi APBD lewat gebyar program populis menjelang akhir periode (misalnya bansos,alokasi dana desa,jamkesmas/jamkesda dll);
2. Pelibatan kepala dinas dan perangkatnya dalam sosialisasi;
3. Sebaran foto incumbent menumpang publikasi program;
4. Penggunaan kendaraan dinas dan fasilitas publik lainnya;
5. Pengerahan PNS untuk sosialsiasi;
6. Penggunaan rumah dinas untuk posko penggalangan dukungan;

 AYO AWASI. LAPORKAN KE PANWAS YANG TERBUKTI MELANGGAR / CURANG. Bila ada kecurangan maka segera laporkan ke Panwas. Email : pengaduan@panwaslu-grobogan.com telepon atau sms di 085741605000.

II.  Profil Kandidat...para team sukses jangan marah ya... 1.Pasangan Nomor Urut 1 : Sri Sumarni SH-H.Pirman Spd Mpd (SIP) Umum Tak ada yang menyangka awalnya Bu Sri si pengusaha pupuk, anggota Dewan 2  periode sampai sekarang ini dan bendahara PDIP Grobogan ini akan jadi calon bupati. Setelah melalui proses penjaringan di internal PDIP yang cukup alot maka akhirnya rekomendasi untuk Cabup PDIP jatuh ke tangan Sri Sumarni dan pasangan Sri-Pirman adalah pendaftar ketiga di KPUD.
Sri Sumarni lahir tahun 1960. Bapaknya dulu adalah seorang Kepala Desa di Desa Karangsari Kecamatan Brati. Bu Sri ditinggal meninggal Bapaknya semasa masih kecil. Status Bu Sri adalah janda beranak satu ( perempuan, sudah berkeluarga ) dimana suami beliau baru meninggal dunia tahun ini. Anak tunggal Bu Sri adalah seorang PNS di Pemkab Grobogan. Domisili Bu Sri Sumarni di Gading Nglejok Purwodadi.Pendidikan terakhir Bu Sri adalah S1 Hukum ( universitas swasta ).
Sri Sumarni adalah anggota dewan dari PDIP di Komisi B DPRD Grobogan yang pada Pileg 2009 lalu beliau mendapatkan suara paling banyak di Grobogan yaitu sekitar 14 ribu suara. Selama bertahun-tahun perusahaan beliau juga telah dipercaya oleh produsen pupuk besar ( Pusri / Petrokimia Gresik / Pupuk Kaltim ) untuk mengelola distribusi pupuk bersubsidi/non subsidi di Grobogan dan sekitarnya. Bu Sri mengawali semua itu dari nol. Bu Sri beragama Islam. Sama seperti Bu Sri Sumarni, Pak Pirman juga tidak disangka akan mendapatkan rekomendasi PDIP untuk menjadi calon wakil Bupati dari PDIP. Pak Pirman lahir sekitar tahun 1953. Memiliki 1 istri dan 4 orang anak dimana anak-anaknya telah berkarir diluar Grobogan ( pegawai, polisi ) dan sudah berkeluarga semua. Beliau berdomisili di Dusun Gluntungan Desa Banjarsari Kecamatan Kradenan. Beliau adalah pensiunan PNS Pemkab Grobogan dan juga menjadi dosen di IKIP Veteran Semarang. Minat beliau untuk mengajar cukup tinggi. Pendidikan terakhir beliau adalah S1 bidang pendidikan ( universitas swasta ) dan S2 juga di bidang pendidikan ( universitas swasta ). Perjalanan karirnya saat menjadi PNS diawalinya dari nol dengan menjadi seorang guru wiyata bhakti, guru PNS dan seterusnya. Beliau pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Koperasi dan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, Budaya dan Olah Raga. Beliau juga mantan Ketua PGRI Grobogan. Beliau pernah mendapatkan penghargaan sebagai keluarga teladan se-eks Karasidenan Semarang. Pak Pirman beragama Islam.

Kelebihan Kekurangan Sebagai seorang pengusaha, Bu Sri dikenal sebagai pribadi yang ulet, pekerja keras, pandai melobi, risteker, gampangan, cepat bertindak, ambisius untuk mengembangkan usahanya dan mudah percaya kepada mitra bisnisnya.
 Di kalangan petani terutama di daerah Brati, Klambu,Grobogan, sebagian Godong, sebagian Purwodadi dan sebagian Penawangan nama beliau ini cukup populer. Hal ini juga karena 2 kali menjadi anggota dewan dan pada Pileg 2009 lalu meraih suara paling tinggi di Grobogan.
Sementara itu Pak Pirman dikenal sebagai pribadi yang kalem, baik, sederhana, simple dan berprinsip mengalir apa adanya.Kekurangan paling menonjol pasangan ini adalah kapasitas Bu Sri sendiri dalam pengelolaan birokrasi dalam organisasi pemerintahan terutama di Grobogan masih diragukan beberapa kawans di wall Pgy. Di kalangan PNS, Bu Sri sendiri terkesan kurang ” menjual ”. Soal kapasitas itu mungkin akan / bisa tertutupi atau diimbangi oleh kapasitas dan pengalaman yang dimiliki Pak Pirman sebagai cawabup yang selama puluhan tahun telah malang melintang sebagai bagian dari birokrasi Grobogan.
Di kalangan guru-guru sebagai mantan Ketua PGRI tentu Pak Pirman juga cukup dikenal. Sebagai salah satu kader andalan dari partai pemenang Pileg 2009 di Grobogan (10 kursi DPRD) maka bisa dikatakan kelebihan lain pasangan ini adalah adanya dukungan dan kondisi mesin partai pendukung terutama partai asal Bu Sri yaitu PDIP yang mulai terlihat kompak,cukup agresif dan cukup solid dibandingkan kondisi mesin partai pada pilkada tahun 2006.
Dukungan tokoh-tokoh partai pengusung di tingkat atas (pengurus teras DPP, beberapa anggota DPR RI dari PDIP dan Demokrat dan tokoh-tokoh teras partai pendukung) juga terlihat intensif di lapangan sehingga memberikan dukungan moril tersendiri.
Kelebihan lain adalah Bu Sri adalah satu-satunya kontestan perempuan, asal strateginya pas bisa menarik pemilih perempuan yang jumlahnya 50% lebih di Grobogan. Zona Abu-Abu Ada yang menduga oknum perusahaan distributor pupuk milik Bu Sri dan oknum pengecernya terkait dengan persoalan perpupukan di Grobogan misalnya dugaan penimbunan, penyelundupan pupuk dan juga soal pupuk organik walau sampai dengan saat ini belum ada fakta hukum yang muncul ke permukaan dari hasil penyelidikan kepolisian maupun KP3 (Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida) Grobogan.
Salah satu pendukung Bu Sri di wall Pgy juga telah mengklarifikasi agar soal pupuk ini bisa bertanya kepada Dinas Pertanian apa ada masalah dengan perusahaan milik Bu Sri. Ada juga yang meragukan proses masuknya putri beliau menjadi PNS. Kedekatan beliau dengan seorang mitra bisnisnya telah menjadi ” black campaign ” tersendiri dari lawan-lawan politiknya dan beberapa orang di wall Pgy ada yang menyampaikan dengan sinis soal kedekatan ini.
Telah menyebar pula sms “ black campaign ” terhadap Bu Sri di lapangan yang isinya cenderung SARA. Soal agama ? Salah satu pendukung Bu Sri di wall Pgy pernah menyatakan bahwa soal agama itu serahkan saja kepada Tuhan karena siapa yang paling bagus agamanya ( bertakwa ) sebenarnya hanya Tuhan yang tahu. Soal sentimen kepada kelompok tertentu juga bisa menimbulkan sentimen sosial yang tidak perlu di masyarakat dan sebenarnya hal itu sudah lama terkubur dan bisa terjadi lagi bisa menjadikan demokrasi bisa mundur ke belakang padahal proses demokrasi di Indonesia telah di set untuk menghargai pluraritas dan keberagaman sosial. Tetapi hal ini bisa juga menjadi bumerang bagi Bu Sri sendiri bila intensitas penyebaran ” black campaign ”  itu begitu luas dan tidak diantisipasi, bisa juga justru memunculkan simpati bila bisa diantisipasi dengan tepat atau bisa juga tidak berarti apa-apa apalagi jika masa kebanyakan adalah masa yang sifatknya transaksional pragmatis dalam memilih calon.
Di kalangan ”tertentu”, kepemimpinan wanita juga masih dianggap sebagai hal yang tabu walau di aturan KPUD tidak ada larangan wanita mendaftar jadi calon Bupati. Mesin Politik PDIP, PPP, Demokrat, ”PAN” , PDS dan PKPI Jaringan usaha pupuknya Bu Sri Slogan-Slogan Untuk Grobogan Lebih Baik Petani Dan Guru Bersatu Rakyat Pasti Maju , Wis Dadi Niyatku Ngawulo Wong Cilik Mbangun Grobogan, Mbangun Desa Noto Projo ,Berjuang Untuk Rakyat Mari Bersatu Bangun Grobogan Yang Lebih Maju,  Program Kerja 1. Peningkatan Dana Pembangunan Desa 2. Penciptaan Lapangan Pekerjaan 3.Ketersediaan Pupuk Untuk Petani 4. Sekolah dan Berobat Gratis Segmen Pemilih Potensial Kalangan petani dan nasionalis 3 Kecamatan Yang Potensial Mendulang Suara Untuk Pasangan Ini 1. Brati 2. Grobogan 3. Kradenan Nilai Kekayaan Bu Sri = 3.6 M Pak Pirman = 1.3 M 2.

 Pasangan Nomor Urut 2 : H. Pangkat Djoko Widodo SH MM – Ir. H M Nurwibowo (JANUR) Umum Setelah gagal terpilih menjadi Cabup dari PDIP saat proses penjaringan Pak Joko akhirnya tetap berhasil maju sebagai Cabup Grobogan melalui PKB dan PKPB berpasangan dengan Ir HM Nurwibowo Ketua PKB Grobogan dengan proses yang relatif cepat dan sederhana dibandingkan proses penetapan Cabup-Cawabup dari PDIP yang cukup alot dan penuh tarik ulur. JANUR adalah pasangan pertama yang mendaftar. Pak Joko lahir tahun 1959 dan beragama Islam. Memiliki 1 istri dan 4 orang anak (masih kuliah/sekolah). Domisili di Purwodadi. Asal beliau dari Wirosari. Bapak beliau dulunya adalah seorang PNS. Pak Joko yang suka tenis ini berlatar pendidikan D3 APDN (sekarang STPDN), S1 Hukum (universitas swasta) dan S2 MM. Jabatan terakhir beliau adalah Staf Ahli Bupati.Sebelumnya beliau telah malang melintang dalam dunia birokrasi Grobogan dengan menjadi Camat, Kabag Pembangunan, Asisten II Sekda, Kepala DPPKAD dan terakhir Staf Ahli. Berbagai pengalaman organisasi pernah dijalani beliau antara lain sebagai Ketua KONI Grobogan, Ketua Alumni STPDN Grobogan dan Ketua Pengajian Al Khidmah Grobogan. Sementara itu Pak Nurwibowo cawabupnya yang minat pada olah raga sepak bola dan tenis serta wayang ini adalah seorang wakil rakyat dari Dapil Tanggungharjo, Kedungjati, Gubug dan Tegowanu. Jiwa nahdliyin kental dalam diri beliau ini karena dibesarkan di lingkungan NU. Beliau adalah salah seorang Wakil Ketua DPRD Grobogan dan Ketua DPC PKB Grobogan. Sudah 3 kali periode ini beliau menjadi wakil rakyat. Dan dua kali ini ikut Pilkada. Tahun 2006 beliau menjadi cawabup Pak Agus Supriyanto ( incumbent ) tetapi tidak berhasil dengan berada pada posisi kedua dengan perolehan suara sekitar 260 ribu. Domisili beliau di Desa Sugihmanik Tanggungharjo. Bapak beliau dulunya adalah seorang pengusaha. Beliau lahir tahun 1966 dan beragama Islam. Memiliki 1 istri dan 3 orang anak ( masih kecil-kecil ). Pendidikan terakhir beliau adalah S1 Teknik Sipil (UII).SMA beliau di SMA 1 Semarang. Selain menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Grobogan,beliau juga merupakan Manajer Persipur dan Ketua Umum Pelti Grobogan. Beliau sebelumnya juga telah malang melintang di berbagai organisasi antara lain GP ANSOR, BANSER, NU, Komite Sekolah SMAN 1 Purwodadi dan juga menjadi penasehat beberapa pondok pesantren di Grobogan. Kelebihan Kekurangan Pak Joko dikenal sebagai pribadi yang risteker, rendah hati, jago lobi,pandai bergaul, kabarnya perhatian kepada anak buah dan memiliki kemampuan public speaking yang cukup baik. Beliau juga memiliki wawasan, pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam pengelolaan birokrasi di Grobogan dengan segala macam permasalahannya. Sementara itu Pak Bowo adalah politikus yang relatif masih baik citranya, santri, tenang, cukup kritis-analitis-konseptual, dan matang. Pasangan ini intensif menggarap kalangan kiai dan santri serta PNS dan terlihat di beberapa kalangan kiai dan santri pasangan ini memiliki prospek dukungan yang cukup positif. Kekurangan pasangan ini yang paling menonjol adalah agresifitas mesin politiknya dan pendukungnya di lapangan terkesan masih perlu ditingkatkan lagi terutama di kalangan non santri / nasionalis dan popularitas Pak Joko di kalangan masyarakat awam di desa-desa perlu didongkrak lagi atau perlu dikenalkan lagi atau perlu dipasarkan lagi secara lebih intensif, kecuali di daerah barat (Tanggungharjo, Gubug,Tegowanu dan Kedungjati) daerahnya Pak Bowo sendiri dimana Pak Bowo bisa dikatakan sudah cukup kondang di sana. Apalagi Pak Bowo sendiri pernah ikut dalam Pilkada 2006 yang menjadi cawabup berpangan dengan Pak Agus ( Incumbent saat itu ) dimana di daerah barat tersebut pasangan Agus Bowo unggul.
 Zona Abu-Abu Ada yang menyampaikan di wall Pgy bahwa Pak Joko diduga terkait dengan kasus korupsi KTP 1.8 M beberapa tahun yang lalu walau dari hasil penyidikan aparat hukum terkait tidak ada bukti kuat keterlibatan beliau. Kasus ini sendiri telah disidangkan dipengadilan dengan 4 orang terdakwa dimana 2 orang telah menjalani hukuman (1 masih di bui, 1 sudah bebas) dan 2 orang belum (kabarnya masih proses banding di MA). Selama menjabat sebagai Kabag Pembangunan dan Asisten II, beliau dikenal sebagai salah satu andalan Bupati ( terutama saat Bupati Agus Supriyanto ) dalam ”pengelolaan” berbagai proyek penting dari APBD dan salah satu andalan dalam berhubungan, lobi dan menyelesaikan berbagai kasus / permasalahan dengan institusi terkait diluar Pemkab. Beberapa kawans di wall Pgy dalam komen-komennya ada yang cenderung sinis soal aset yang dimiliki oleh beliau. Dalam soal rekrutasi honorer,nama beliau juga disebut-sebut di wall Pgy tetapi belum ada informasi terindikasi ”pake uang” di wall Pgy.

 Soal honorer ini sebenarnya tidak ada cabup yang bisa dikatakan steril kecuali mungkin pasangan Budi Edy yang selama ini banyak berkecimpung di luar Grobogan bahkan kondisi yang lebih parah soal honorer ini justru terjadi di lingkaran dekat cabup yang lain. Mesin Politik PKB, PKPB Jaringan di kalangan kiai, santri atau Nahdliyin Slogan-Slogan Jangan Pernah Berhenti Mudah Ditemui, Lancar Berkomunikasi Dan Cepat Ambil Solusi Sekarang Saatnya Perubahan Dengan Kerja Keras Tiada Lagi Jalan Rusak Menuju Grobogan Yang Religius Dan Sejahtera Program Kerja Fokus kepada pembangunan infrastruktur dan peningkatan kesejahteraan rakyat serta pendidikan. Akan buat aturan wajib belajar di jam-jam tertentu. Akan buat kegiatan forum silaturahmi kiai-bupati secara rutin.Akan buat pertemuan antara rakyat dan bupati secara rutin. Segmen Pemilih Potensial PNS dan kalangan santri ( nahdliyin ) 3 Kecamatan Yang Potensial Mendulang Suara Untuk Pasangan Ini 1. Kedungjati 2. Wirosari 3. Tanggungharjo Nilai Kekayaan Pak Joko = 2.8 M Pak Bowo = 1.6 M 3.Pasangan Nomor Urut 3 : H. Bambang Pudjiono SH – H.Icek Baskoro (BAIK) Umum Inilah pasangan incumbent saat ini yang ingin tetap bertahan dan pendaftar terakhir di KPUD. Dilihat dari sisi popularitas dan posisinya sebagai incumbent pasangan ini memiliki kans yang cukup besar untuk mempertahankan posisinya. Pak Bambang sendiri sudah menjadi pucuk pimpinan eksekutif Grobogan selama 2 periode yaitu 2001-2006 sebagai wakil bupati (bupatinya saat itu adalah Pak Agus Supriyanto) dan 2006-2011 sebagai Bupati Grobogan. Pak Bambang berasal dari Desa Plosorejo Kecamatan Tawangharjo. Beliau lahir tahun 1958 dan beragama Islam. Bapak beliau dulunya adalah Kepala Desa Plosorejo Tawangharjo. Beliau memiliki 2 istri dan 5 orang anak (ada yang menjadi ibu rumah tangga,bekerja dan masih kuliah / sekolah). Anak tertua beliau adalah PNS di Pemkab Grobogan dan anak kedua adalah istri dari Wakil Ketua DPRD Grobogan yang paling muda yaitu Wasono Nugroho (Soni) yang juga adik kandung Pak Icek ( wakil bupati saat ini ). Pak Bambang berpendidikan SMA 1 Purwodadi, D3 APDN (sekarang STPDN) dan S1 Hukum (universitas swasta / Universitas Muria Kudus?).Domisili beliau di Purwodadi.
Beliau juga telah malang melintang di birokrasi pemerintahan Grobogan. Sebelum menjadi Wakil Bupati beliau adalah kabag organisasi dan sebelumnya adalah camat ( pernah menjadi camat karangrayung ). Beliau yang memiliki minat dengan otomotif (beberapa kali ikut event kegiatan motor trail ) dan minat dalam pewarisan budaya leluhur seni wayang serta kabarnya juga minat pada hal metafisis ini (ditandai dengan adanya acara wayangan di pendopo secara rutin) memiliki segudang pengalaman organisasi sebelum jadi wakil bupati antara lain beliau juga pernah menjadi Ketua GP Ansor Grobogan dan lain-lain.
Pak Icek Baskoro, sang wakil bupati saat ini dan kakak kandung dari menantu Pak Bambang ( Soni / Wasono Nugroho / Wakil Ketua DPRD Grobogan), lahir sekitar tahun 1963/1964 dan beragama Islam. Beliau asli Purwodadi dan berdomilisi selama ini di Purwodadi (Jengglong). Konon kabarnya beliau ini adalah keturunan Kiai Burham (pendiri masjid kuno di jenglong barat Purwodadi dan salah satu tokoh penyebar agama Islam di Purwodadi). Bapak beliau dulunya adalah wiraswastawan / pengusaha sukses ( pendiri Lembu Karya Group). Beliau memiliki 2 istri dan 4 orang anak. Pendidikan terakhir beliau adalah S1 Hukum ( Untag Semarang ). Beliau juga alumni SMA 1 Purwodadi. Sebelum menjabat sebagai wakil bupati, beliau adalah Ketua Fraksi Golkar di DPRD Grobogan. Beliau juga sebagai Ketua DPD Golkar Grobogan saat ini.Beliau yang memiliki minat dan hobi di bidang otomotif dan kabarnya pandai memainkan biola ini juga berpengalaman di berbagai organisasi sebelum jadi wakil bupati antara lain RAPI, AMPI dan KNPI. Kelebihan Kekurangan Kelebihan yang paling menonjol tentunya adalah pasangan ini telah memiliki pengalaman dalam memimpin Grobogan dengan kelebihan dan kekurangannya dan dengan segala permasalahan dan tantangannya. Modal penguasaan kondisi wilayah, adaptasi, konsolidasi dan koordinasi dalam tim kerjanya relatif telah terbentuk. Pak Bambang sendiri adalah pribadi yang dikenal ramah, santun, sederhana, tenang, percaya dirinya kuat, hati-hati dan kalem sementara Pak Icek sendiri adalah pribadi yang simple, tenang, memulai karir politiknya dari nol dan mampu menyesuaikan dengan gaya kepemimpinan Pak Bambang sehingga pasangan ini selama ini relatif tidak ada konflik yang berarti. Saat menjabat sebagai Wabup, Pak Bambang juga terkesan cukup sabar mengimbangi gaya kepemipinan Pak Agus Supriyanto. Soal tidak adanya konflik yang berarti dengan Pak Icek sebagai wakilnya maka hal ini bisa jadi mungkin karena pasangan ini memiliki hubungan persaudaraan dimana menantu Pak Bambang yaitu Wasono Nugroho ( Mas Soni? Wakil Ketua DPRD Grobogan dari Partai Golkar) adalah adik kandung Pak Icek sendiri. Kelebihan lain yang menurut pengamatan Pgy menonjol dan mau tidak mau harus diakui adalah posisinya sebagai incumbent ( petahana ) yang tentu akan mudah memperoleh dukungan dan melakukan mobilisasi di jajaran birokrasi serta mudah menggerakkan dinas-dinas untuk membantu sosialisasi melalui program-program pemerintah jelang akhir periode ( walau sisi lain bila hal itu terjadi sebenarnya akan mengurangi tingkat kualitas pelaksaan etika dan prosedur berdemokrasi serta kurang memberikan contoh yang positif dalam pendidikan politik praktis serta bisa sebabkan netralitas dan profesionalitas birokrasi terganggu ). Kondisi lain yang menguntungkan adalah dimana kondisi mesin politik pasangan ini yaitu Golkar relatif solid, mapan, dan kompak di lapangan. Hal ini bisa dilihat dari perolehan suara Golkar di Pileg 2009 yang cukup sukses dan tidak adanya konflik yang berarti di tubuh Golkar Grobogan selama ini. Hal lain kelebihan pasangan ini tentu juga relatif sudah dikenal di masyarakat dan mudah mengenalkan ke masyarakat. Selain kelebihan tersebut tentu kekurangan-kekuarangan pasti ada sebagai manusia biasa. Dalam perjalanannya selama ini memimpin Grobogan dalam beberapa hal Pak Bambang terkesan kurang tegas (cenderung safety player?) dan cenderung lamban merespons dinamika yang berkembang dalam beberapa hal. Kreatifitas dan kontrol terhadap pekerjaan anak buah dilapangan juga masih perlu ditingkatkan. Selama kepemimpinan Pak Bambang, juga minim terobosan progresif yang orisinal sebagai suatu ”master piece” beliau yang menjadi kebanggaan Grobogan (masih terkesan ”business as usual”?). Beberapa mantan pendukung beliau di pilkada 2006 mengaku kecewa karena setelah jadi Bupati beliau terkesan sulit ditemui,ada janji yang belum dipenuhi dan bahkan ada yang mengaku hutangnya saat calonan dulu belum terbayar. Soal hutang ini kebenarannya tentu masih bisa dipertanyakan karena hanya orang tersebut dan Pak Bambang sendiri yang tahu apa yang dulu sebenarnya terjadi.Soal sulit ditemui,hal ini bisa jadi mungkin karena jadwal beliau yang begitu padat sebagai Bupati. Selama kepemimpinan Pak Bambang 5 tahun terakhir ini berbagai prestasi tingkat nasional /J ateng telah diperoleh Grobogan antara lain peningkatan produksi pertanian dari SBY,  Adipura sebagai kota kecil terbersih untuk Purwodadi dari SBY, Reboisasi/GNHRL, penghargaan pertanian dari KTNA Pusat, KB ,  Juara umum keempat Porprov Jateng ( sama seperti di jaman Pak Agus,juga pernah sebagai juara keempat ) dan Kabupaten Layak Anak. Pembangunan fisik seperti betonisasi jalan juga telah dilakukan dalam masa kepemimpinan Pak Bambang sebagai Bupati walau sayang kualitas hasilnya masih dipertanyakan dan bahkan ada yang tidak sesuai spek atau harapan masyarakat atau cepat rusak misalnya jalan gajahmada, jalan tuko kandangan, pembatas jalan diponegoro, trotoar, gedung smp geyer dan lain-lain. 3 top trend positif Grobogan dalam kepemimpinannya adalah sebagai berikut : 1. Stabilitas sosial dan keamanan secara umum relatif stabil dan terkendali; 2. Peningkatan produksi pertanian terutama padi,jagung dan kedelai; 3. Pemberdayaan KB, pengentasan gizi buruk dan layanan kesehatan di Puskemas dengan dukungan Jamkesmas/Jamkesda relatif cukup menjangkau dan memadai; 3 top trend negatif Grobogan dalam kepemimpinannya adalah sebagai berikut : 1.Indikasi KKN ( Korupsi, Kolusi, Nepotisme ) yang makin subur. Padahal dulu janjinya saat kampanye Pilkada 2006 adalah Insya Allah Amanah,Bebas KKN, tidak akan ada kalau saya jadi Bupati jadi pegawai membayar ( Suara Karya, Agustus 2005 ) dan janji akan wujudkan good government saat penyampaian visi misi Pilkada 2006. 2.Tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan di Grobogan relatif masih tinggi dan angkanya dari tahun ke tahun relatif stagnan (tidak ada penurunan yang significant); 3.Transparansi dan kualitas pelayanan publik,tingkat investasi yang serap banyak tenaga kerja, terobosan dalam bidang pendidikan, peningkatan kontribusi UKM (ekonomi kerakyatan) dan perlindungan bagi generasi penerus masih jauh dari memadai. Miras dan karaoke ilegal juga menjamur. Zona Abu-Abu Terkesan pasangan ini cenderung dalam beberapa hal mengutamakan kepentingan kelompok keluarganya sendiri (dari tulisan jazz benz di wall Pgy).Beberapa oknum-oknum keluarga pasangan ini (terutama oknum adik-adik Pak Bambang) juga diduga terlibat dalam berbagai kasus antara lain ada yang tertangkap polisi karena narkoba, ada yang dilaporkan ke polisi atas dugaan mabuk dan pemukulan terhadap pemandu karaoke di sebuah karaoke ilegal,dugaan keterlibatan dalam kasus percaloan rekrutasi honorer ielgal, dugaan korupsi jalan gajahmada paket II, dugaan korupsi dana desa kalongan, dugaan mendapatkan ”priveleges’ dalam memperoleh proyek APBD dll). Pak Icek sendiri tahun lalu pernah dipanggil Panwas Jateng karena diduga dalam Pileg 2009 melakukan mobilisasi birokrasi/kepala-kepala desa di kecamatan Tegowanu untuk memenangkan salah satu calon dan partai tertentu walau dalam klarifikasinya kepada Panwas Jateng, Pak Icek katakan saat pertemuan yang diduga untuk mobilisasi itu beliau sedang ada di rumah. Di wall Pgy tahun lalu juga ada yang meragukan masuknya putra Pak Bambang di cpns 2009 yang berhasil menembus formasi cpns yang hanya memperebutkan 1 kursi cpns (bidang teknis irigasi).Untuk soal ini anggota keluarga beliau telah memberi klarifikasi bahwa keberhasilan itu diperoleh dengan kerja keras disertai doa, puasa dan shalat tahajud serta sudah beberapa kali ikut tes sebelumnya dan baru kali ini bisa tembus. Di wall Pgy, pasangan ini akhir-akhir ini dikeluhkan karena sebagai incumbent diduga lakukan mobilisasi PNS dalam pilkada 2011 dengan melakukan sosialisasi melalui dinas (misalnya soal penghijauan,peternakan dll jelang akhir periode dan ada yang setelah pendaftaran cabup ke KPUD), mutasi besar-besaran yang diduga ”ada nuansa transaksionalnya” dan ”team sukses” beliau di jajaran birokrasi diduga juga lakukan mobilisasi dan bahkan intimidasi ke jajaran dibawahnya sehingga profesionalitas dan netralitas sebagian PNS jelang pilkada kali ini dipertanyakan. Seperti di wall Pgy,ada yang sampaikan adanya intimidasi kepada guru-guru wiyata bhakti. Kabarnya juga yang terang-terangan mendukung incumbent aman-aman saja posisinya tetapi pns yang ketahuan mendukung non incumbent ada yang dimutasi atau diperingatkan. Kondisi ini tentu menjadikan organisasi birokrasi menjadi tidak sehat dalam situasi saat ini.Sikap profesionalisme pasangan ini diuji. Netralitas yang sebenarnya harusnya ditegakkan agar pelayanan publik optimal dan profesional. Konon kabarnya juga ada yang dimintai sumbangan pasca mutasi/promosi tersebut terkait pilkada oleh oknum di sekitar beliau dan konon kabarnya ada tawaran perpanjangan jabatan setelah pensiun dengan kompensasi ratusan juga rupiah. Dugaan ini memang perlu penelurusan lebih lanjut dan soal suap menyuap biasanya cenderung baunya ada tetapi pembuktiannya sulit. Dan di wall Pgy salah satu pendukung pasangan ini telah membantah adanya dugaan-dugaan ini.Terkait mutasi ini, di mass media Pak Bambang juga telah sampaikan mutasi besar-besaran ini yang kabarnya mencapai 150 an posisi ini adalah dalam rangka pengisian posisi kosong dan penyegaran serta tidak ada hubungannya dengan Pilkada karena sudah direncanakan lama dan baru terlaksana akhir-akhir ini. Adik beliau yang juga Kepala Dinas Kesehatan juga diduga lakukan politisasi jamkesda/mas untuk kepentingan politik praktis dalam pilkada. Mesin Politik Golkar,Gerindra,PKS dan bbrp partai non parlemen seperti PIS,Pelopor,PBR dan PKNU Jaringan birokrasi (PNS) Slogan-Slogan Lanjutkan Membangun Grobogan Mbangun Deso Noto Kuto Program Kerja Melanjutkan program yang telah dilakukan selama ini dengan fokus kepada pembangunan infrastruktur yaitu jalan dan irigasi. Akan membangun pula waduk dan embung-embung.Di salah satu mass media Pak Bambang juga berjanji jika terpilih lagi akan membangun semua akses jalan dengan di beton. Segmen Pemilih Potensial PNS,kalangan santri 3 Kecamatan Yang Potensial Mendulang Suara Untuk Pasangan Ini 1. Tawangharjo 2. Karangrayung 3. Purwodadi Nilai Kekayaan Pak Bambang = 1.1 M Pak Icek = 795 juta 4.Pasangan Nomor Urut 4 : Bambang Budisatyo SH MM – Edy Mulyanto S.si.T.Master Mariner Umum Inilah pasangan kedua yang mendaftar ke KUPD. Pak Budi sendiri dengan keiutsertaannya kali ini di pilkada 2011 adalah yang ketiga kalinya.Dua kali sebelumnya gagal. Terakhir tahun 2006 beliau maju berpasangan dengan Pak Suratmoko (anggota DPRD saat itu dan Ketua DPC Demokrat Grobogan) dengan kendaraan Demokrat, PNBK dan lain-lain dan mendapatkan sekitar 100 ribu suara sehingga menempati urutan ketiga. Pak Budi adalah pensiunan PNS dari Departemen Keuangan Jakarta. Berdomisili di Jakarta. Memiliki 1 istri dan 3 orang anak (sudah bekerja). Pak Budi yang kabrnya memiliki hobi nyanyi dan memiliki minat dalam dunia pewayangan ini lahir sekitar tahun 1952 dan beragama Islam. Pada Pileg 2009 yang lalu Pak Budi ikut memperebutkan kursi DPR RI dari Dapil Grobogan,Rembang,Blora dan Pati melalui Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) tetapi tidak berhasil. Dulu beliau dikenal juga sebagai tokoh / pengurus Ikatan Keluarga Warga Purwodadi Grobogan di Jakarta (IKAPURA). Pak Budi sendiri berpendidikan SMA 1 Purwodadi, S1 Hukum (Undip) dan S2 MM (swasta). Orang tua beliau dulunya adalah seorang PNS di Purwodadi. Sebenarnya ada info tambahan lain tetapi karena Pgy masih ragu validitasnya maka tidak diinfomasikan disini. Pasangan Pak Budi sebagai cawabup adalah Pak Edy Mulyanto.Usianya masih relatif muda, 35 tahun. Pak Edy lahir tahun 1975,beragama Islam dan memiliki 1 istri dan 2 orang anak yang masih kecil-kecil.Domisili beliau di Desa Wolo Kecamatan Penawangan. Orang tua Pak Edy dulunya adalah seorang guru agama. Pendidikan Pak Edy adalah bidang pelayaran. D3,S1 sd S2 beliau adalah di bidang pelayaran (AKPELNI Semarang). Di wall Pgy,seorang adik kelas beliau pernah memberi info bahwa Pak Edy termasuk salah satu lulusan master of marine yang termuda. Beliau adalah anggota DPRD Grobogan 2009-2014 dari Partai Hanura. Beliau juga Ketua DPC Partai Hanura Grobogan. Sebelum jadi anggota DPRD beliau berprofesi sebagai pelaut dan terakhir sebagai kapten kapal. Konon beliau pernah menjadi nakhoda (kapten kapal) di Singapura dan Timur Tengah. Kelebihan Kekurangan Bagi orang-orang yang mengenalnya, Pak Budi menurut mereka dikenal sebagai pribadi yang pandai, terbuka dan cukup merakyat serta memiliki wawasan yang luas, jaringan luas di tingkat pusat, pengalaman dan kemampuan yang cukup dalam pengelolaan birokrasi pemerintahan (di Depkeu) walau bukan birokrasi lokalan pemerintahan di Grobogan. Sementara Pak Edy sendiri dikenal sebagai pribadi yang cukup tegas, cukup kritis, disiplin dan memiliki komitmen yang kuat untuk lakukan perubahan. Sebagai anggota dewan juga relatif memiliki citra yang cukup baik hingga saat ini. Indikasi memiliki komitmen untuk lakukan perubahan, di wall Pgy Pak Edy pernah berujar bahwa beliau siap mundur jika 1 tahun kepempimpinannya nanti tidak ada perubahan. Pasangan yang selama ini ”besar” di dunia luar Grobogan ini tentu kelebihannya adalah belum banyak terkontaminasi ”dunia birokrasi Grobogan” sehingga memberikan potensi ”kesegaran tersendiri”dan sebenarnya lebih berpotensi mudah lakukan perubahan dalam perbaikan pengelolaan birokrasi Grobogan karena relatif tidak ada beban historis dan tidak ada kondisi ”ewuh pakewuh” atau ”keharusan balas budi” dengan oknum-oknum pejabat/birokrat selama ini di Grobogan. Latar belakang pendidikan dan wawasan di ”luar” kedua pasangan ini mungkin juga yang paling menonjol. Sementara itu kekurangan yang menonjol pasangan ini ada di Pak Budi sendiri karena walau cukup dikenal terutama bagi pemilih tahun 2006 tetapi ada ganjalan psikologis dan persepsi yang kurang menguntungkan di tingkat masa terhadap beliau sebagai akibat persoalan tanda dukungan atau”insiden keplek” saat Pilkada tahun 2006. Sisi lain Pak Edy Mulyanto ini juga belum dikenal luas padahal Pak Edy yang masih muda dan cukup idealis ini sebenarnya potensial merekrut pemilih pemula (pemuda). Zona Abu-Abu Ada yang menyampaikan di wall Pgy bahwa Pak Budi diduga memiliki ”peranan” dalam realokasi tambahan anggaran DAU di Depkeu ke beberapa Kabupaten. Di wall Pgy, beberapa kawans malah cenderung menanggapi dengan sinis atas ”nyalonnya” Pak Budi yang ketigakalinya ini dalam Pilkada Grobogan terutama dikaitkan dengan kemampuan permodalan beliau yang sepertinya tidak pernah habis untuk ikut Pilkada. Mesin Politik Hanura,PDP,PNBKI dan beberapa partai non parlemen. Relawan Pak Budi saat Pilkada 2006 yang masih setia Slogan-Slogan Dengan jujur dan terbuka mewujudkan grobogan yang maju dan sejahtera Siap mengemban amanat rakyat untuk perubahan Grobogan yang lebih baik Program Kerja Prioritas kepada perbaikan infrastruktur Penataan dan peningkatan layanan masyarakat Penciptaan lapangan kerja Peningkatan mutu jalan antar desa Layanan kesehatan dan sekolah gratis Pemberdayaan UMKM Segmen Pemilih Potensial Kalangan nasionalis 3 Kecamatan Yang Potensial Mendulang Suara Untuk Pasangan Ini 1. Penawangan 2. Pulokulon 3. Gabus Nilai Kekayaan Pak Budi = 1.4 M Pak Edy = 1.7 M IV.Sikap Dalam Pilkada Dan Setelah Pilihan Dalam proses pilkada,semua unsur harus bahu-membahu menciptakan proses pilkada yang jujur,adil,demokratis,bermartabat dan berkualitas. Bila ada kecurangan maka segera laporkan ke Panwas. Email : pengaduan@panwaslu-grobogan.com telepon atau sms di 085741605000.

Ibarat pertandingan sepakbola, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Menang kalah adalah hal biasa dalam sebuah kompetisi. Sikap biasa ini harus diberdayakan kepada team sukses dan masyarakat. Kalau ada yang curang laporkan saja ke wasitnya yaitu Panwas atau uji saja ke Mahkamah Konstitusi (MK) dengan bukt-bukti yang kuat. Ikuti prosedur dan rasional itu lebih bagus daripada anarkisme yang ditonjolkan. Untuk itu lebih baik semua team sukses mempelototi dan mengawasi rekam kegiatan masing-masing calon agar ada saling cek dan ricek dan bagi yang curang bisa di uji nantinya di MK dengan bukti-bukti yang kuat. Di dalam masyarakat harus disampaikan sikap menerima kekalahan dan kemenangan dengan lapang dada. ” Menang Ojo Umuk Kalah Ora Ngamuk ” harus disosialisasikan.” Crah Agawe Bubrah Rukun Agawe Sentosa ” juga menarik untuk disampaikan mengingat suhu politik yang semakin tinggi yang berpotensi menimbulkan gesekan. Saat porda grobogan dan porseni madrasah/ponpes baru-baru ini nuansa sportifitas mengemuka.Spanduk-spanduknya juga bertuliskan junjung sportifitas untuk raih prestasi tinggi. Berlomba-lomba dalam kebaikan dan prestasi. Nah, mudah-mudahan para politisi,team sukses dan masyarakat bisa belajar dari anak-anak madrasah dan atlet-atlet porda itu. Malu sama anak-anak madrasah bila ada oknum politisi tidak sportif dalam Pilkada kali ini. Bila ribut bahkan anarkis maka yang rugi kita semua. Bagi yang terpilih maka milik semua rakyat. Jangan mementingkan kelompok dan keluarganya sendiri. Semua harus dirangkul. Tidak ada lawan dan kawan yang ada semua kawan untuk bahu membahu membangun Grobogan ke depan. JANGAN PERNAH BERHENTI LANJUTKAN MEMBANGUN GROBOGAN DENGAN JUJUR DAN TERBUKA UNTUK GROBOGAN LEBIK BAIK DAN SEJAHTERA. Siapapun yang jadi bupati 2011-2016 akan menghadapi dan berupaya mensolusikan 5 masalah mendasar di Grobogan yaitu minimnya infrastruktur yang memadai untuk memicu pergerakan ekonomi (terutama jalan dan irigasi), angka kemiskinan yang tinggi, minimnya ketersediaan lapangan kerja dibandingkan dengan tingkat pengangguran, ancaman banjir/kekeringan/tanah longsor, dan soal pemberantasan KKN di jajaran birokrasi. Untuk mensolusikan ini semua, tantangan besar Bupati adalah mensiasati APBD secara maksimal agar lebih pro solusi masalah mendasar tersebut dan untuk wujudkan janji-janjinya ditengah komposisi APBD yang sudah 60%-70% habis untuk biaya/belanja pegawai (bayar gaji,tunjangan dan lain-lain). Tantangan lain adalah bagaimana Bupati mampu mensinergikan semua elemen dan memberdayakan semua potensi untuk bergerak secara cepat dan progresif untuk maju bersama secara beriringan menuju kemajuan Grobogan. Siapapun yang jadi,bangunlah Grobogan lebih berkualitas dengan skala prioritas.STOP KKN dan jadikan Grobogan milik semua bukan milik kelompok atau keluarga tertentu.Semoga. V.Penutup Pgy buat tulisan ini dr berbagai macam sumber.Mohon maaf bila tidak berkenan terutama kepada team sukses.Silakan lakukan cek dan ricek atau klarifikasi bila ada yang salah. Itu lebih baik daripada intimidasi,teror dan ancaman kekerasan fisik. Setajam apapun mohon selesaikan perbedaan dengan cara-cara yang demokratis (SBY). Berbeda itu indah (Obama saat kunjungan ke Masjid Istiqlal Jakarta). Semoga bermanfaat.Silakan tentukan pilihan Anda menurut hati nurani setelah proses menimbang-nimbang dengan matang bukan karena uang. Siapapun yang menang, adalah milik semua rakyat. Semua harus kembali kepada posisi masing-masing,saling menghargai dan saling mendukung. Bravo Grobogan. Salam Pemilu Damai,Jujur,Rahasia,Bermartabat dan Berkualitas. Semoga Grobogan makin jaya.

 by
PGY

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar